Wawancara
Hj Harwini Joesoef
IIQ Punya Kekhususan Wanita Menghafal Quran
SEMINAR mengenang Al-Maghfurlah Prof KH Ibrahim Hosen digelar di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Selasa (21/10). KH Ibrahim Hosen dikenal sebagai ulama besar yang mumpuni, ahli fiqih, ahli bidang ulum al-Qur\’an dan ilmu qiraat. Untuk mengetahui perjuangan dan kaitannya dengan para wanita penghafal al-Qur\’an, Pelita mewawancarai Ketua Umum Yayasan Institut Ilmu Al-Qur\’an (IIQ) Jakarta Hj Harwini Joesoef.
Seminar mengenang al-maghfurlah Prof KH Ibrahim Hosen telah dilaksanakan di MUI Pusat. Apa yang dapat diambil dari seminar tersebut?
Seminar mengenang al-Maghfurlah Prof KH Ibrahim Hosen sangat berarti bagi kami, terutama keluarga besar IIQ, PTIQ dan MUI. Dari seminar terungkap bahwa beliau sangat visioner terhadap pengembangan sumber daya manusia, khususnya wanita. Beliau berupaya memadukan unsur al-Qur\’an dan perempuan di dalamnya.
KH Ibarahim Hosen salah seorang ahli fiqih dan pelopor pengembangan studi dan pengkajian ilmu-ilmu al-Qur\’an di Indonesia. Hal ini ditandai dengan hampir separuh lebih, usia beliau dihabiskan dalam perjuangan yang tiada henti untuk pengembangan ilmu-ilmu al-Qur\’an. Dan di bidang tafsir nama beliau diabadikan pada Tim Tafsir Departemen Agama. Begitu banyak jasa beliau untuk bangsa dan umat Islam di Indonesia, sehingga dalam seminar ada yang mengusulkan agar KH Ibrahim Hosen diberi atribut mujtahid.
Mulai tahun tujuh puluhan, beliau adalah salah seorang penggagas dan pendiri Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur\’an (PTIQ) Jakarta khusus putra yang kini berubah nama menjadi Institut Studi Ilmu Al-Qur\’an (ISIQ). Kemudian pada 1 April 1977, beliau bersama dengan Yayasan Affan, mendirikan IIQ Jakarta, khusus putri.
Apa yang Ibu ketahui tentang cita-cita Al-Maghfurlah KH Ibrahim Hosen tentang IIQ?
KH Ibrahim Hosen bercita-cita agar IIQ mampu melahirkan tokoh-tokoh wanita yang mumpuni secara keilmuan, hafal al-Qur\’an dan selalu menghiasi diri dengan nilai-nilai al-Qur\’an, karena wanita adalah ibu rumah tangga, pendidik utama dan merupakan tiang negara.
IIQ didirikan dengan memadukan dua sistem pendidikan, yaitu sistem pendidikan tinggi pada umumnya dan sistem pesantren dengan kekhususan menghafal, mempelajari ilmu-ilmu al-Quran, qiraat tujuh, seni baca al-Qur\’an, dan mahasiswanya khusus wanita. Dari kekhususan tersebut menunjukkan bahwa figur almarhum Prof KH Ibrahim Hosen adalah tokoh yang sangat visioner terhadap pengembangan sumber daya mansuia, khususnya wanita.
Apakah keberadaan IIQ sekarang sudah bisa dianggap berhasil?
Perlu diketahui Al-Maghfurlah Prof KH Ibrahim Hosen memiliki cita-cita luar biasa. Saya belum bisa mengatakan program ini sudah berhasil penuh, tetapi obsesi KH Ibrahim Hosen mewujudkan cita-citanya waktu itu sampai sekarang tetap eksis, sesuai dengan visinya, yaitu menjadikan IIQ sebagai pusat kajian al-Qur\’an dan hadits yang mampu merespon perkembangan zaman. Selain itu, berupaya memberdayakan kaum perempuan, sehingga mereka bisa setara dengan kaum lelaki dalam mengenyam pendidikan tinggi, dan akhirnya bisa memberikan kontribusi dalam membina rumah tangga yang penuh dengan nilai-nilai dan membangun masyarakat.
Apa kiat Ibu memajukan IIQ ke depan?
Kiat saya? Begini, sampai sekarang saya menyadari bahwa IIQ memang sebagai lembaga swasta dimana sumber-sumber keuangannya masih sangat terbatas, dan masih banyak bergantung kepada pihak lain, memang harus memberdayakan dirinya sendiri agar mempunyai daya tawar yang kuat di tengah banyaknya perguruan tinggi Islam yang ada. Oleh karena itu setelah kami membenahi bangunan fisik di lingkungan kampus IIQ, maka program yang sedang kami tangani selanjutnya adalah penguatan kekhususan IIQ, yaitu penguatan dalam bidang tahfizh (hafalan), tajwid, tilawah dan tafsir. Kami yakin bahwa IIQ masih bisa dipercaya oleh masyarakat, karena IIQ mempunyai konsern terhadap kekhususannya. Tanpa kekhususan ini IIQ tidak beda dengan perguruan tinggi Islam lainnya. Tujuan kami dengan program ini adalah bahwa IIQ memang menjadi institusi yang melahirkan para hafizhah yang andal, qoriah yang mumpuni, dan mufassiroh yang berwawasan dan bisa dibanggakan. (sidik m nasir)