“Sayangnya Sejarah terlanjur mempercayakan perubahan pada pemuda”
Dalam siklus hidup manusia, masa muda merupakan sebuah masa dimana seseorang mengeksplorasi dirinya. Semangat yang menggebu-gebu dan tekad yang membara dengan idealisme mencapai puncaknya menjadi ciri khas bagi pemuda. Plus kapasitas pemikiran intelektual yang lebih menonjol menempatkan kaum muda sebagai aktor sosial perubahan, pemuda bukan saja menyandang status sebagai pemimpin masa depan, tetapi juga sebagai tulang punggung bangsa dalam mengisi pembangunan.
Berbicara mengenai pemuda di negri ini, tentu erat kaitannya dengan perkembangan sejarah bangsa Indonesia. Generasi muda Indonesia selalu memberikan warna tersendiri bagi perjalanan bangsa ini. Goresan sejarah bangsa Indonesia tidak akan pernah luput dari lembaran sejarah kepemudaanya (Benedict Anderson, 1990). Pada tahun 1928, para pemuda Indonesia dari beragam latar belakang suku, agama dan bahasa membulatkan tekad demi menggalang persatuan bangsa guna berjuang melawan penindasan kaum kolonialis. Sejak saat itu pula, setiap tanggal 28 Oktober kita memperingati Hari Sumpah Pemuda.
Sedikit menengok sejarah, terjadinya Sumpah Pemuda pada waktu itupun tercipta melalui sejarah yang panjang pula. Atas inisiatif dari PPI(Perhimpunan Pelajar Indonesia) yang beranggotakan pelajar-pelajar dari seluruh Indonesia, diselenggarakanlah rapat akbar para pemuda yang dihadiri oleh wakil-wakil organisasi pemuda, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dan masih banyak lagi. Rapat tersebut akhirnya mencetuskan tiga butir poin penting,yaitu
- PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
- KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
- KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Tiga poin penting itulah yang hingga kini popular dengan Sumpah Pemuda. Pemuda terpelajar saat itu ( sekarang ini mungkin lazim dikenal sebagai mahasiswa) memberikan sejarah baru bagi pergerakan di Indonesia. Delapan Puluh tahun sudah Sumpah Pemuda tersebut telah diikrarkan. Sebuah usia yang “lebih dari ”cukup tua jika dibandingkan dengan umur seorang manusia. Namun Tuanya usia dari sejarah tidak selalu berbanding lurus dengan semangat dan kedewasaan yang ditunjukkan oleh para pemudanya. Semangat persatuan yang dulu diusung sedikit banyak sudah terkikis saat ini, sebagai contoh kasus tawuran antar mahasiswa beberapa waktu yang lalu. Mahasiswa yang seharusnya memiliki intelektualitas tinggi ternyata saling baku hantam satu sama lain. Anarkisme dan perilaku destruktif tersebut tentunya sangat bertentangan dengan semangat dan jiwa Sumpah Pemuda.
Keadaan yang berbeda ketika melihat wajah sebagian pemuda yang lain. Medali dan penghargaan kelas Internasional berhasil diraih, demi mengharumkan nama bangsa. Sebuah prestasi yang patut diapresiasi dan tidak boleh dipandang sebelah mata tentunya. Berbagai macam karya aplikatif berhasil ditemukan untuk digunakan bersama. Bangga diri ini jika bisa berbuat sesuatu untuk negeri.
Sebagai seorang pemuda yang berlabel mahal “mahasiswa”, mau kemanakah kita selanjutnya ? Ingin terus terlena dalam indahnya dunia ataukah membuka mata kita akan kenyataan yang ada di negeri ini? Jawabannya kembali ke masing-masing pribadi, diam atau beraksi untuk negeri ini apapun bentuknya. Berlomba-lomba mencatatkan nama dalam sejarah emas bangsa Indonesia. Hanya waktu yang akan menjawabnya. Dan musuh kita saat ini bukanlah bule-bule pada zaman penjajahan delapan puluh tahun yang lalu, akan tetapi sifat negatif dari diri kita sendiri ? Apatisme terhadap carut marutnya negri ini. Lebih memilih nge-game atau meningkatkan hal –hal penunjang profesi pribadi dan mengesampingkan diskusi dengan sedikit peduli terhadap 120 juta rakyat miskin dinegri ini (World Bank Standard)? Diiringi harapan berbalut doa, apakah sejarah pernah bersumpah ? Bersumpah yang satu , tiada lain dihatiku selain Indonesia. Selamat hari Sumpah Pemuda yang ke 80, semoga ini bukan seremonial romantisme sejarah saja karena tahun ini dihelat pula peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, mari kita aktualisasikan semangat dan jiwa Sumpah Pemuda untuk membangun bangsa ini menjadi bangsa yang unggul dan maju, mampu berdiri kokoh di atas pentas dunia.
