Arsip untukNovember, 2008

Adakah sejarah pernah bersumpah?

“Sayangnya Sejarah terlanjur mempercayakan perubahan pada pemuda”

Dalam siklus hidup manusia, masa muda merupakan sebuah masa dimana seseorang mengeksplorasi dirinya. Semangat yang menggebu-gebu dan tekad yang membara dengan idealisme mencapai puncaknya menjadi ciri khas bagi pemuda. Plus kapasitas pemikiran intelektual yang lebih menonjol menempatkan kaum muda sebagai aktor sosial perubahan, pemuda bukan saja menyandang status sebagai pemimpin masa depan, tetapi juga sebagai tulang punggung bangsa dalam mengisi pembangunan.

Berbicara mengenai pemuda di negri ini, tentu erat kaitannya dengan perkembangan sejarah bangsa Indonesia. Generasi muda Indonesia selalu memberikan warna tersendiri bagi perjalanan bangsa ini. Goresan sejarah bangsa Indonesia tidak akan pernah luput dari lembaran sejarah kepemudaanya (Benedict Anderson, 1990). Pada tahun 1928, para pemuda Indonesia dari beragam latar belakang suku, agama dan bahasa membulatkan tekad demi menggalang persatuan bangsa guna berjuang melawan penindasan kaum kolonialis. Sejak saat itu pula, setiap tanggal 28 Oktober kita memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Sedikit menengok sejarah, terjadinya Sumpah Pemuda pada waktu itupun tercipta melalui sejarah yang panjang pula. Atas inisiatif dari PPI(Perhimpunan Pelajar Indonesia) yang beranggotakan pelajar-pelajar dari seluruh Indonesia, diselenggarakanlah rapat akbar para pemuda yang dihadiri oleh wakil-wakil organisasi pemuda, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dan masih banyak lagi. Rapat tersebut akhirnya mencetuskan tiga butir poin penting,yaitu

  • PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
  • KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
  • KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Tiga poin penting itulah yang hingga kini popular dengan Sumpah Pemuda. Pemuda terpelajar saat itu ( sekarang ini mungkin lazim dikenal sebagai mahasiswa) memberikan sejarah baru bagi pergerakan di Indonesia. Delapan Puluh tahun sudah Sumpah Pemuda tersebut telah diikrarkan. Sebuah usia yang “lebih dari ”cukup tua jika dibandingkan dengan umur seorang manusia. Namun Tuanya usia dari sejarah tidak selalu berbanding lurus dengan semangat dan kedewasaan yang ditunjukkan oleh para pemudanya. Semangat persatuan yang dulu diusung sedikit banyak sudah terkikis saat ini, sebagai contoh kasus tawuran antar mahasiswa beberapa waktu yang lalu. Mahasiswa yang seharusnya memiliki intelektualitas tinggi ternyata saling baku hantam satu sama lain. Anarkisme dan perilaku destruktif tersebut tentunya sangat bertentangan dengan semangat dan jiwa Sumpah Pemuda.

Keadaan yang berbeda ketika melihat wajah sebagian pemuda yang lain. Medali dan penghargaan kelas Internasional berhasil diraih, demi mengharumkan nama bangsa. Sebuah prestasi yang patut diapresiasi dan tidak boleh dipandang sebelah mata tentunya. Berbagai macam karya aplikatif berhasil ditemukan untuk digunakan bersama. Bangga diri ini jika bisa berbuat sesuatu untuk negeri.

Sebagai seorang pemuda yang berlabel mahal “mahasiswa”, mau kemanakah kita selanjutnya ? Ingin terus terlena dalam indahnya dunia ataukah membuka mata kita akan kenyataan yang ada di negeri ini? Jawabannya kembali ke masing-masing pribadi, diam atau beraksi untuk negeri ini apapun bentuknya. Berlomba-lomba mencatatkan nama dalam sejarah emas bangsa Indonesia. Hanya waktu yang akan menjawabnya. Dan musuh kita saat ini bukanlah bule-bule pada zaman penjajahan delapan puluh tahun yang lalu, akan tetapi sifat negatif dari diri kita sendiri ? Apatisme terhadap carut marutnya negri ini. Lebih memilih nge-game atau meningkatkan hal –hal penunjang profesi pribadi dan mengesampingkan diskusi dengan sedikit peduli terhadap 120 juta rakyat miskin dinegri ini (World Bank Standard)? Diiringi harapan berbalut doa, apakah sejarah pernah bersumpah ? Bersumpah yang satu , tiada lain dihatiku selain Indonesia. Selamat hari Sumpah Pemuda yang ke 80, semoga ini bukan seremonial romantisme sejarah saja karena tahun ini dihelat pula peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, mari kita aktualisasikan semangat dan jiwa Sumpah Pemuda untuk membangun bangsa ini menjadi bangsa yang unggul dan maju, mampu berdiri kokoh di atas pentas dunia.

Jalan Bareng BEMFS Di RAGUNAN

Seneng banget acara jalan-jalan ke Ragunan kemarin sama anak2 fakultas Syari’ah, semoga kegiatan bareng2 terus gini tetap berjalan terus yach…

IIQ Punya Kekhususan Wanita Menghafal Quran [Agama dan Pendidikan]

Wawancara
Hj Harwini Joesoef
IIQ Punya Kekhususan Wanita Menghafal Quran

SEMINAR mengenang Al-Maghfurlah Prof KH Ibrahim Hosen digelar di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Selasa (21/10). KH Ibrahim Hosen dikenal sebagai ulama besar yang mumpuni, ahli fiqih, ahli bidang ulum al-Qur\’an dan ilmu qiraat. Untuk mengetahui perjuangan dan kaitannya dengan para wanita penghafal al-Qur\’an, Pelita mewawancarai Ketua Umum Yayasan Institut Ilmu Al-Qur\’an (IIQ) Jakarta Hj Harwini Joesoef.

Seminar mengenang al-maghfurlah Prof KH Ibrahim Hosen telah dilaksanakan di MUI Pusat. Apa yang dapat diambil dari seminar tersebut?

Seminar mengenang al-Maghfurlah Prof KH Ibrahim Hosen sangat berarti bagi kami, terutama keluarga besar IIQ, PTIQ dan MUI. Dari seminar terungkap bahwa beliau sangat visioner terhadap pengembangan sumber daya manusia, khususnya wanita. Beliau berupaya memadukan unsur al-Qur\’an dan perempuan di dalamnya.
KH Ibarahim Hosen salah seorang ahli fiqih dan pelopor pengembangan studi dan pengkajian ilmu-ilmu al-Qur\’an di Indonesia. Hal ini ditandai dengan hampir separuh lebih, usia beliau dihabiskan dalam perjuangan yang tiada henti untuk pengembangan ilmu-ilmu al-Qur\’an. Dan di bidang tafsir nama beliau diabadikan pada Tim Tafsir Departemen Agama. Begitu banyak jasa beliau untuk bangsa dan umat Islam di Indonesia, sehingga dalam seminar ada yang mengusulkan agar KH Ibrahim Hosen diberi atribut mujtahid.
Mulai tahun tujuh puluhan, beliau adalah salah seorang penggagas dan pendiri Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur\’an (PTIQ) Jakarta khusus putra yang kini berubah nama menjadi Institut Studi Ilmu Al-Qur\’an (ISIQ). Kemudian pada 1 April 1977, beliau bersama dengan Yayasan Affan, mendirikan IIQ Jakarta, khusus putri.

Apa yang Ibu ketahui tentang cita-cita Al-Maghfurlah KH Ibrahim Hosen tentang IIQ?

KH Ibrahim Hosen bercita-cita agar IIQ mampu melahirkan tokoh-tokoh wanita yang mumpuni secara keilmuan, hafal al-Qur\’an dan selalu menghiasi diri dengan nilai-nilai al-Qur\’an, karena wanita adalah ibu rumah tangga, pendidik utama dan merupakan tiang negara.
IIQ didirikan dengan memadukan dua sistem pendidikan, yaitu sistem pendidikan tinggi pada umumnya dan sistem pesantren dengan kekhususan menghafal, mempelajari ilmu-ilmu al-Quran, qiraat tujuh, seni baca al-Qur\’an, dan mahasiswanya khusus wanita. Dari kekhususan tersebut menunjukkan bahwa figur almarhum Prof KH Ibrahim Hosen adalah tokoh yang sangat visioner terhadap pengembangan sumber daya mansuia, khususnya wanita.

Apakah keberadaan IIQ sekarang sudah bisa dianggap berhasil?

Perlu diketahui Al-Maghfurlah Prof KH Ibrahim Hosen memiliki cita-cita luar biasa. Saya belum bisa mengatakan program ini sudah berhasil penuh, tetapi obsesi KH Ibrahim Hosen mewujudkan cita-citanya waktu itu sampai sekarang tetap eksis, sesuai dengan visinya, yaitu menjadikan IIQ sebagai pusat kajian al-Qur\’an dan hadits yang mampu merespon perkembangan zaman. Selain itu, berupaya memberdayakan kaum perempuan, sehingga mereka bisa setara dengan kaum lelaki dalam mengenyam pendidikan tinggi, dan akhirnya bisa memberikan kontribusi dalam membina rumah tangga yang penuh dengan nilai-nilai dan membangun masyarakat.
Apa kiat Ibu memajukan IIQ ke depan?

Kiat saya? Begini, sampai sekarang saya menyadari bahwa IIQ memang sebagai lembaga swasta dimana sumber-sumber keuangannya masih sangat terbatas, dan masih banyak bergantung kepada pihak lain, memang harus memberdayakan dirinya sendiri agar mempunyai daya tawar yang kuat di tengah banyaknya perguruan tinggi Islam yang ada. Oleh karena itu setelah kami membenahi bangunan fisik di lingkungan kampus IIQ, maka program yang sedang kami tangani selanjutnya adalah penguatan kekhususan IIQ, yaitu penguatan dalam bidang tahfizh (hafalan), tajwid, tilawah dan tafsir. Kami yakin bahwa IIQ masih bisa dipercaya oleh masyarakat, karena IIQ mempunyai konsern terhadap kekhususannya. Tanpa kekhususan ini IIQ tidak beda dengan perguruan tinggi Islam lainnya. Tujuan kami dengan program ini adalah bahwa IIQ memang menjadi institusi yang melahirkan para hafizhah yang andal, qoriah yang mumpuni, dan mufassiroh yang berwawasan dan bisa dibanggakan. (sidik m nasir)

Memaknai Sumpah Pemuda

as

“PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.”

“KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.”

“KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.”

Itulah tiga kalimat yang terbungkus dalam satu ikrar sumpah pemuda hasil Kongres Pemuda II yang dikumandangkan 80 tahun yang lalu dengan semangat persatuan dan kesatuan dan jiwa pemuda yang membara. Hingga saat ini peristiwa pada tanggal 28 Oktober tersebut selalu diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda.

Kongres Pemuda II dilaksanakan oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut diselenggarakan sebanyak tiga sesi di tiga tempat yang berbeda. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan diantaranya yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.

Dalam peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali yang diciptakan oleh W.R. Soepratman. Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.

Kita sebagai pemuda seharusnya bisa menghayati arti besar Sumpah Pemuda. Tidak hanya sebagai pengertian, namun juga dalam semangat, jiwa dan pemikiran kita. Dulu, betapa hebatnya para pemuda bangsa dalam mengorganisir dan memelopori persatuan dengan suasana yang masih mencekam di bawah pemerintahan Hindia-Belanda. Kini, mungkin penjajah itu bukan dari bangsa lain, tapi dari bangsa sendiri. Banyak hal yang harus kita benahi. Sebagai pemuda, kita harus bisa menjadi tonggak perubahan, pelopor persatuan dan pengharum bangsa.
Kita harus bisa memaknai kalimat “Agent of Change” dengan sebenar-benarnya.
Pertama, ideologi kemanusiaan. Organisasi Mahasiswa sampai hari ini masih terjebak pada persoalan ideologi yang membuat mereka saling bertarung satu sama lain. Akibatnya, terjadi perebutan lahan dan kader-kader baru. Hal ini menjadi kontraproduktif dalam penyelesaian masalah-masalah bangsa. Oleh karena itu, perlu dilakukan migrasi dari ideologi sektarian menuju ideologi kemanusiaan yang bersifat universal.

Kedua, aksi berbasis intelektual. Selama ini demonstrasi yang dilakukan organisasi mahasiswa cendrung tidak matang karena emosi dan keharusan respon yang cepat. Sehingga pembahasan konsep tidak matang. Di Jerman misalnya, para mahasiswa sebelum turun ke jalan mengkaji secara komprehensif problem yang akan mereka suarakan. Bahkan kajian dilakukan layaknya penelitian. Jadi lewat pemikiran yang matang dan perencanaan yang sistematis, aksi dapat terkontrol, berbobot, dan bisa menyakinkan pihak-pihak yang berkepentingan.

Ketiga, tak sekedar wacana. Organisasi mahasiswa memang telah berhasil membentuk kader yang kritis, vokal dan pintar beretorika. Namun, persoalan tidak terpecahkan hanya lewat diskusi dan dataran teorititasi saja. Oleh karena itu, wacana yang diusung oleh mahasiswa juga mesti menyentuh aspek-aspek aplikatif. Misalnya ketika mahasiswa marah karena pemerintah menaikkan harga bbm harusnya dibarengi aksi nyata memakai sepeda.

Semoga dengan semangat Sumpah Pemuda, kita bisa mengimplementasikan apa yang telah kita ucapkan.